- 5th
- June
- 2010
pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang anak perempuan, dan dia berkata pada dirinya sendiri. “suatu hari, aku harus menjadi seorang balerina” maka ia pun terus berlatih, dan berlatih hingga kakinya letih. tapi saat itu perang sedang berlangsung dan pada suatu malam yang pilu, pasukan musuh menjatuhkan bom diatas kotanya, dan keesokan harinya, gadis yang malang itu kehilangan satu kakinya, dan kehilangan satu-satunya mimpi yang ia miliki. hari demi hari ia lewati dengan duduk di teras depan rumahnya. merajut, membaca, melukis, menulis puisi, apapun selama hal itu menjauhkannya dari impiannya yang hancur. lama kemudian rumahnya dipenuhi oleh semua karyanya, setumpuk buku puisi yang tak pernah diterbitkan, lukisan-lukisan setengah jadi dan benang-benang menggantung yang enggan dijalin. pada hari ulang tahunnya yang ke 23 ia menyadari bahwa ia tak pernah menyelesaikan apapun dalam hidupnya. orang tua gadis itu pun menyadari bahwa ia sudah mekar, dan waktunya untuk dinikahkan dengan pemuda yang baik, yang akan menjaganya seperti mereka menjaganya. dan ketika mereka menemukan pemuda yang tepat untuk putri mereka, si gadis hanya mengangguk lemah. hidupnya telah berakhir di malam ketika bom itu jatuh, menikah tidak akan memberi perbedaan sama sekali, pikirnya. setelah 3 tahun pernikahan tanpa arti, gadis itu pun hamil. dan setelah bertahun-tahun ia jalani tanpa semangat, ia pun tersenyum seolah hidupnya datang lagi. seorang bayi perempuan mungil lahir dari tubuhnya, tentu merekah senyumnya tanpa ada tanda akan berhenti. dia rawat dengan hati-hati anaknya, dia ajarkan menari, dia ajarkan balet. perang sudah lama berhenti, tentu dia akan menjadi balerina yang hebat tanpa masalah, ucapnya pada dirinya sendiri. seorang anak yang kehendaknya ditolak tentu akan segera berontak, begitu pula anak si gadis itu. ditinggalkannya rok tutu yang dijahitkan ibunya, dan pergi dari rumah dengan motor pacar perempuannya. betapa kecewanya hati ibunya? jika dulu dia habiskan hari-hari berdukanya di depan teras rumahnya, kini berdiri dari tempat tidur pun ia tak sanggup. dia hanya akan mengedipkan matanya. satu kali tandanya ya, satu kali tandanya tidak. baginya itu cukup untuk berkomunikasi dengan dunia yang hanya bisa mengecewakannya ini. suaminya yang dulu baik tak sanggup bertahan sendirian. pelampiasannya telah ditentukan, pelacur tanpa nama yang sangat murahan, dan dia sudah lebih cukup untuk suami sang gadis, yang jiwanya entah kemana. hari berlalu, bulan berlalu, tahun berlalu, dan tukang pos selalu membawa kabar buruk. orang tua si gadis meninggal mengenaskan karena kebakaran, meninggalkannya harta warisan berupa gundukan tanah hangus yang seharusnya berupa rumah kuno yang sangat indah. tapi si gadis tak peduli. hidupnya sudah berakhir bertahun-tahun yang lalu. anak si gadis pun meninggal. apartemennya diserang massa yang menolak hubungan sesama jenis. mayatnya ditemukan polisi dengan kondisi yang mengenaskan. entah mayat siapa yang pulang. ia atau teman perempuannya yang laknat itu. kemudian kabar kematian suaminya. penyakit kelamin yang amat parah menyerangnya. dan tiba-tiba semua sepi. dia tak mau lagi mendengar kabar-kabar mengerikan ini, semua orang mati, dan semua orang meninggalkannya. entah apa akan ada orang lagi yang peduli padanya. lalu ia menahan nafas sangat lama. dan gelap. dalam kegelapan itu ia merasakan hidupnya lagi. tetapi kali ini bom itu tidak jatuh dikotanya. dia terus berlatih balet dan berhasil tampil di pentas-pentas paling bergengsi di dunia. suaminya seorang saudagar tampan yang sangat kaya dan menyayangi dia sepenuh hati. mereka dikarunai dua anak, seorang anak lelaki yang gagah dan kuat, dan seorang anak perempuan cantik yang mewarisi kelihaian ibunya sebagai balerina. ia hidup lama sekali, dan selalu tersenyum seumur hidupnya. kemudian dia sadar, ternyata mati itu menyenangkan.
-
yudahates posted this